Buku ini mengisahkan tentang dinamika kehidupan masyarakat di Desa Barengkok, sebuah desa pedalaman di Kabupaten Bogor yang perlahan mulai berubah akibat arus modernisasi. Nama desa ini sempat memicu kesalahpahaman karena dalam bahasa Sunda, barengkok berarti melengkung atau bengkok. Namun, kepala desa meluruskan bahwa namanya berasal dari kata babarengan (bersama-sama) dan mangkok (wadah), yang bermakna "wadah untuk hidup dan bergerak bersama" demi menjaga keharmonisan dan gotong royong.Cerita bergerak maju dengan menyoroti dampak nyata dari perluasan area perkotaan yang mulai merambah ke wilayah pedesaan. Anak-anak di desa tersebut harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan lahan hijau yang biasa mereka gunakan untuk bermain. Masalah lingkungan pun kian memburuk saat ekosistem sungai yang menjadi urat nadi kehidupan desa mulai rusak akibat pencemaran dan aktivitas pembangunan. Melalui sudut pandang yang dekat dengan dunia anak, kisah ini menggambarkan bagaimana jarak antara modernitas kota dan keasrian desa kini seolah tanpa batas, memaksa warga desa untuk bertahan di tengah gempuran zaman.